• 14 Jun 2011 /  Tugas No Comments

    SISTEM PEMERINTAHAN TRADISONAL MASYARAKAT ASMAT DI IRIAN JAYA

    Buku ini merupakan hasil penelitian instansional yang dilaksanakan oleh para staff direktorat sejarah dan nilai tradisional,direktorat jendral kebudayaan ini antara lain bertujuan mengisi ruang kosong mengenai informasi pemerintahan tradisional dalam masyarakat Asmat. Fokus perhatian utama diarahkan kepada informasi mengenai bagaimana bentuk pemerintahan tradisional tersebut berkembang dalam lingkungan aslinya, serta bagaimana peranan dan pengaruh dari sisa-sisa pemerintahan tradisional tersebut setelah diberlakukannya Undang undang Nomor 10 tahun 1975 tentang pemerintahan daerah di seluruh Indonesia. Walaupun peraturan pemerintah tersebut telah berlaku hampir 20 tahun,akan tetapi pengaruh dan hambatan dari sistem pemerintahan tradisional terhadap pembangunan di daerah daerah masih terasa seperti dilaporkan oleh banyak pelaksana pembangunan. Direktorat sejarah dan Nilai tradisional dalam kapasitas tugas dan fungsinya berusaha berusaha mengangkat kasus sistem kepemimpinan tradisional Asmat sebagai salah satu daerah yang relatif masih baru mengenal dan menerapkan sistem pemerintahan nasional dalam kehidupan kepemimpinan sosial-politik mereka.

    Tujuan penelitian ini antara lain adalah mendapatkan data dan informasi tentang bagaimana proses perkembangan kehidupan sosial politik pada masyarakat Asmat khususnya dan Irian Jaya umumnya. Memberi masukan mengenai daya dukung politik dan pemerintahan sejalan dengan meningkatnya kegiatan pembangunan nasional di segala bidang. Secara khusus,penelitian ini bertujuan mencari data tentang tipe tipe kekuatan dan kekuasaan yang dapat menunjang kelancaran pembangunan,khususnya pembangunan politik. Memberi masukan berupa pedoman pedoman untuk pembinaan dan pengembangan kebudayaan suatu masyarakat,khususnya dalam rangka menghadapi berbagai akibat dari meningkatnya intensitas kegiatan pemerintahan dan politik yang melanda seluruh daerah di Indonesia. Selanjutnya hasil penelitian ini akan dijadikan naskah yang diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan guna penelitian serta kebijaksanaan lebih lanjut.

    Ruang lingkup dalam kegiatan penelitian dan penulisan ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu berdasarkan materi yang dimiliki dan tehnik operasional pengolahannya. Asmat adalah salah satu daerah dengan kehidupan khas suatu masyarakat sederhana di Irian Jaya yang sedang dikembangkan pada dewasa ini. Lingkungan alamnya sangat dipengaruhi suhu dan cakrawala tropis, hampir seluruh daratannya tertutup oleh rawa-rawa serta genangan pasang surut dan naik air laut yang amat jelas perbedaannya. Lingkungan alam berawa rawa Asmat ditandai oleh hamparan hutan tropis maha luas yang menyimpan pokok pokok sagu yang seolah olah tak pernah habis dimakan tujuh turunan. Mata pencaharian pokok mereka adalah meramu sagu yang diandalkan sebagai makanan pokok utama. Kebutuhan air tawar diperoleh dari curahan hujan dan tumpahan sungai dari pegunungan tinggi dipedalaman. Boelh dikatakan air hujan adalah sumber untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sejak ratusan tahun yang silam. Karena banyak pendatang yang menggunakan air yang dikemas dalam botol botol plastik maka orang Asmat mulai mengenal adanya air murni yang banyak di jual di kios kios pendatang di daerahnya. Tulisan ini adalah sebagian dari hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh staff direktorat sejarah dan nilai tradisional di desa Agats, Ayam, Syuru, dan Amboret di wilayah Asmat, kabupaten Merauke, Profinsi Irian Jaya. Di desa itu terdapat beberapa lokasi yang dijadikan sebagai obyek wisata, terutama karena menghasilkan ukiran. Daerah daerah tujuan wisata itu adalah Sawa-Erma, Atsj, Pirimapun dan Brazza. Dengan kata lain penduduk desa Asmat di kabupaten Merauke telah menyesuaikan diri dengan progam progam pemerintah daerah yang mengutamakan kebijaksanaan pembangunannya untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk yang bermukim di wilayah Indonesia.

    Kegiatan pengumpulan data lapangan dalam kerangka penelitian mengenai perkembangan pemerintahan tradisional dalam kehidupan sosial politik masyarakat Asmat, Irian jaya, ini dilakukan denagn memanfaatkan tehnik tehnik wawancara dan pengamatan secara langsung terhadap penduduk serta lingkungannya. Cara cara seperti ini lazim disebut metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan salah satu cara dalam penelitian yang mengandalkan interpretasi dari sejumlah data yang dikumpulkan. Oleh karena itu, dianggap bahwa kemampuan data metode kualitatif tergantung dari para penelitinya. Metode ini mengandalkan kepekaan peneliti dalam menangkap gejala baikyang diperoleh melalui cerita dan pengalaman dari para informan maupun pengamatan terhadap tingkah laku mereka dalam berbagai kegiatan hidup sehari hari dan di saat saat penting dalam lingkaran hidup merka. Di samping itu materi penganalisaan juga memanfaatkan data sekunder yang sudah ada, yaitu informasi informasi yang berupa laporan atau tulisan mengenai hasil hasil penelitian terhadap daaerah tersebut. Tentu saja studi kepustakaan seperti ini sangat diperlukan sebagai pendukung kerangka dasar pemikiran, asumsi asumsi dan pesoman dalam pengumpulan data, serta sebagai alat komprehensif dalam penganalisaan.

    Masyarakat dan kebudayaan asmat adalah salah satu suku bangsa yang paling banyak dilaporkan dan diteliti. Banyak anggapan bahwa indigenous dan primitif dalam pandangan barat. Namun sebenarnya keseluruhan fenomena kehidupaan sosial budaya dan lingkungan alam yang khas itu yang menjadikan asmat begitu menonjol dibandungkan dengan ratusan suku bangsa lain di Irian jaya. Sehingga studi tentang satu aspek saja dari kehidupan sosial budaya Asmat perlu dikaitkan kepada berbagi aspek lain, terutama yang berpengaruh secara langsung.

    Dalam studi ini, bagaimanapun sistem pemrintahan tradisional asmat berada dalam kerangka besar sistem sosial yang sudah tentu terbentuk dalam rangka institusionalisasi cara cara pemenuhan kebutuhan setiap warganya. Sehingga tinjauan terhadap kondisi dan letak geografis atau situasi lingkungan fisik secara keseluruhan memerlukan sekali tinjauan silang dengan fakta fakta sosial yang ada sampai saat ini ciri ciri sosial budaya masyarakat asmat masih dapat digolongkan ke dalam jenis masyarakat tribal,masyarakat bersahaja yang belum sepenuhnya memahami sistem kemasyarakatan terpusat dan mendapat mandat dari lembaga lembaga hukum teringgi dari negara Indonesia. Setelah sekitar setengah abad terbuka dan di kenal oleh dunia luar orang asmat masih saja dikategorikan oleh lembaga lembaga resmi sebagai masyarakat “terasing”, terutama karena kondisi lingkungan alamnya tetap menjadi penghambat utama kelancaran pembangunan. Kesulitan untuk mendirikan sarana dan prasarana fisik sebagai penunjang pembagunan di segala bidang terseebutlah yang memperlambat perkembagan asmat. Padahal pembangunan itu sendiri pada hakekatnya adalah pemacu kontak kontak dan peningjatn nilai nilai dan cara atau strategi penyesuaian diri dengan kemajuan yang menjadi tujuan.

    Selagi berada dalam taraf perkembamgan yang tidang mulus itu kehidupan sosial politik masyarakat asmat masih tetap didominasi ineal. Dasar hubungan sosial yang demikian pula yang menentukan bentuk bentuk struktur sosial dan sistem pengaturan sosial di antara sesama warga komuniti. Secara struktural kehidupan sosial masyarakat asmat masih dibentuk oleh gugus gugus kekerabatan unilineal yang masing masing memiliki kedudukan sama seimbang(egaliter). Karena antara satu gugus dengan gugus lain terkait ke dalam suatu mekanisme internal yang bersifat genealogis. Sebagai akibatnya dalam kehidupan nyata hubungan politik dan kekerabatan tidak bisa dipisahkan. Boleh dikatakan struktur politik yang bersahaja dan kekerabatan tersebut telah menjadi kesatuan internal dalam sistem keteraturan dan pengaturan sosial internal masyarakat Asmat.

    Bentuk kekuasaan terpusat yang diatur secara administratif dan didukung oleh lembaga lembaga hukum formal masih berafa di sisi luar dari kehidupan sehari hari mereka. Sistem pemerintahan nasional yang diwakili oleh kehadiran sub sistem pemerintahan daerah tingakat desa dan kecamatan belum masuk menjadi bagian dari sistem pengaturan sosial politik internalnya. Tetapi adalah sisi lain dalam rangka hubungan sosial politik dengan unit unit sosial di luar struktur sosial asli mereka.

    Kehidupan Sosial asmat diwakili oleh komuniti jew yang tidak memiliki perbedaan kedudukan sosial yang tajam, tidak ada kekuasaan otokrasi yang dimiliki secara super ordinat oleh seseorang atau kelompok, dan tidak ada pula kedudukan anak buah yang bersifat sub ordinat. Jadi anggapan orang awam bahwa asmat memiliki pemimpin suku adalah tidak berdasar sama sekali. Keteraturan sosial asmat terbentuk oleh sebuah piramida gugus gugus sosial kekerabatan dan terirorial dalam kesamaan derajat dan peran. Gugus sosial paling rendah dalam piramida ini adalah keluarga keluarga inti unilineal yang tergabung ke dalam satu rumah tangga(cem). Gugus rumah rumah tangga dari kakek moyang yang sama tergabung lagi ke dalam kesatuan keluarga luas terbatas yang disebut Jew. Sesungguhnya komuniti kampung Asmat terbentuk dari Unit unit keluarga luas unilineal yang terdiam di semua rumah komunal. Itu pula sebabnya orang Asmat menyebut kampungnya Jew dan Rumah komunalnya juga disebut Jew.

    Sementara itu keluarga keluarga luas unilineal yang ada terbagi kepada dua paroh utama. Yang pertama adalah paroh keluarga luas yang dianggap lebih dulu mendirikan Jew ditempat itu(Cawi). Yang kedua adalah paroh keluarga luas yang dianggap datng terakhir dan gugus ini disebut Amis.

    Sistem kepemimpinan Asmat tergolong jenis Big Man,kepemimpinan orang besar. Hanya orang orang yang benar benar unggul saja yang berhak memimpin di bidangnya. Kepala adat dipilih dari laki laki bijaksana dan berpengalaman dalam masalah aturan dan ketentuan adat yang diwariskan nenek moyang. Karena itu, seorang kepala adat mestilah yang terbaik dan diantara senior. Kepala perang mestilah orang orang terkuat, pemberani dan perkasa diantara mereka. Pengukir utama(wow-ipits) mestilah laki laki terpandai dalam mewujudkan motif motif simbol keyakinan religi mereka. Begitu juga halnya dengan pemimpin kaum wanita, mestilah wanita dewasa yang paling kuat,pandai,dan berwibawa siantara sesama wanita komuniti Jew itu sendiri.

    Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan zaman dan lingkungan telah merubah pula sedikit banyaknya posisi kedudukan sosial, sekaligus lembaga lembaga pengaturan sosial asmat. Kenyataan paling mendasar adalah menguatnya primodialisme dan senioritas, terutama karena golongan tua amat kuatir jika keteraturan sosial diserahkan kepada golongan muda yang membawa nilai nilai dan lembaga sosial baru sebagai pengaruh daru luar. Golongan muda yang terlalu bersemangat dengan pembaruan terpaksa berebut porsi kepemimpinan formal yang baru sedikit tersedia buat mereka, yaitu kedudukan kedudukan sosial formal yang hanya bisa dicapai lewat sosualisasi pendidikan resmi, baik sebagai pegawai pemerintahan ataupun karyawan di lingkungan resmi gereja katolik.

    Posted by belva @ 8:31 am