• 26 Jan 2011 /  Dagangan


    Sedia Pakaian seperti Pada gambar. Dapat secara Eceran maupun Grosir. Jika anda ingin memboyong dapat menghubungi 08562520091 atau datang langsung ke Pusat Grosir Solo lantai 2 blog B 1 nomor 9

  • 05 Jun 2012 /  Tugas

    UKD3 kuantitatif

  • 23 Apr 2012 /  Uncategorized

    Setiap orang pasti ingin suaranya merdu dan ingin menjadi penyanyi. Sangat disayangkan keinginan orang tersebut tidak bisa tercapai jika suaranya pas-pasan. Maka ramuan membuat supaya suara menjadi merdu bisa mempergunakan dua buah jeruk nipis, masing-masing potong menjadi dua bagian, peras dan ambil airnya dan campur dengan sedikit kapur sirih dan seujung kuku garam serta satu sendok makan madu asli. Ramuan ini diminum habis. Lakukan setiap minggu satu kali maka dalam waktu sebulan suara orang tersebut menjadi merdu. Untuk menjaga kelestarian suara dan terpelihara dengan baik, lakukan ramuan tersebut diatas dua kali dalam sebulan maka suaranya tambah merdu dan awet.

    Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/history/1827281-tips-supaya-suara-menjadi-merdu/#ixzz1srIWk92k

  • 28 Mar 2012 /  Tugas

    Bagaimana jika kita hendak melakukan analisis regresi dengan lebih dari satu prediktor atau variabel independen? Kita tetap dapat menggunakan analisis regresi, hanya saja saat ini melibatkan lebih dari satu prediktor dalam analisisnya. Analisis regresi seperti ini sering disebut dengan analisis regresi ganda (Multiple Regression Analysis). Sebagai catatan: baik analisis regresi sederhana maupun analisis regresi ganda, keduanya berada dalam satu bendera yang sama yaitu Analisis Regresi. Jadi keduanya bukan merupakan teknik analisis yang berbeda, tetapi analisis yang sama hanya saja diterapkan pada situasi yang berbeda.

    Pada dasarnya, pemikiran mengenai analisis regresi ganda ini merupakan perluasan dari prinsip-prinsip analisis regresi sederhana yang dibahas dalam postingan sebelumnya. Karena melibatkan lebih dari satu prediktor, tentu saja perhitungan dalam analisis regresi ganda akan lebih rumit.

    Dalam beberapa hal saya masih menganggap perlu untuk menampilkan rumus-rumus untuk kepentingan memperoleh pemahaman bukan untuk perhitungan semata. Jadi kita masih akan bertemu dengan beberapa rumus yang mungkin agak rumit dalam postingan ini. Harap sabar ya…

    Regresi Ganda dan Regresi dengan Satu Prediktor
    Sebenarnya pemikiran mengenai analisis regresi ganda itu seperti melakukan beberapa kali analisis regresi, satu kali untuk tiap prediktor. Analisis regresi ganda menjadi lebih rumit karena seringkali kedua prediktor memiliki hubungan yang mempengaruhi hubungan tiap prediktor dengan kriterion. Hal ini yang membuat hasil analisis regresi dengan menggunakan lebih dari satu prediktor akan berbeda dengan analisis regresi untuk tiap prediktornya. Perbedaan muncul misalnya dalam hasil estimasi b dan R2 nya.

    Baiklah saya akan berikan contoh untuk ilustrasi poin ini. Contoh yang saya berikan adalah ketika kedua prediktor memiliki korelasi yang sangat kecil dan hampir nol (sebenarnya saya ingin membuatnya benar-benar nol tapi agak sulit sepertinya). Anggaplah ada dua prediktor yaitu a dan b dan satu kriterion c. Yang pertama saya melakukan analisis regresi dengan melibatkan satu prediktor saja. Hasil analisis dengan menggunakan SPSS 16 dapat dilihat sebagai berikut:
    Gambar 1. R kuadrat dengan melibatkan a saja

    Gambar 2. R kuadrat dengan melibatkan b saja

    Gambar 3. R kuadrat dengan melibatkan a dan b

    Dari ketiga tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai R kuadrat yang dihasilkan dari analisis regresi yang melibatkan dua prediktor kurang lebih adalah jumlah dari R kuadrat dari analisis regresi untuk tiap prediktornya: 0.549 =0.478+0.070.

    Gambar 4. nilai slope dengan melibatkan a saja

    Gambar 5. nilai slope dengan melibatkan b saja
    Gambar 6. nilai slope untuk tiap variabel dengan melibatkan a dan b

    Dari gambar 4 sampai 6, dapat kita lihat bahwa besarnya slope untuk tiap variabel kurang lebih sama antara slope yang didapatkan dari hanya melibatkan satu prediktor dengan slope yang didapatkan dari dua prediktor.

    Hal ini terjadi karena bagian dari variasi d yang dijelaskan oleh a adalah murni bagian yang terpisah dari bagian variasi d yang dijelaskan oleh b, karena kedua prediktor tersebut tidak berkorelasi. Begini gambarnya:
    Gambar 7. Ilustrasi regresi dengan dua prediktor yang tidak saling berkorelasi.

    Tentu saja kita akan sangat jarang berhadapan dengan situasi ini. Situasi lain yang lebih sering dijumpai dalam penelitian adalah ketika kedua prediktor saling berkorelasi. Korelasi dua prediktor ini mengakibatkan bagian dari variasi kriterion yang dijelaskan oleh prediktor yang satu bukan merupakan bagian yang murni terpisah dari bagian yang dijelaskan prediktor lain atau dengan kata lain ada overlap antara bagian yang dijelaskan oleh a dan b. Oleh karena itu bagian ini perlu diidentifikasi agar tidak terhitung ulang (lihat gambar 8.).
    Gambar 8. Ilustrasi analisis regresi yang melibatkan dua prediktor yang berkorelasi

    Estimasi Parameter dalam Regresi Ganda
    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, estimasi parameter dalam regresi ketika melibatkan lebih dari dua prediktor, perlu memperhitungkan korelasi antar prediktor. Ini tercermin dalam rumus-rumus untuk mencari tiap parameter.
    Dalam artikel ini, penjelasan analisis regresi ganda melibatkan hanya dua prediktor saja demi kemudahan pemaparan. Oleh karena itu rumus dari garis prediksi yang akan dicari adalah
    Slope
    Rumus untuk mencari b1 maupun b2 mirip. Dapat dilihat sebagai berikut:
    Dapat dilihat dalam kedua rumus di atas, bahwa nilai b selalu didapatkan dari korelasi antara variabel yang dicari b-nya dengan variabel dependen (ry1), yang kemudian dikoreksi dengan korelasi antara variabel independen lain dengan variabel dependen (ry2) dan korelasi antar variabel independen (r12).

    Nah ketika korelasi antar variabel independen tidak sama dengan nol, maka dapat dikatakan korelasi ini ‘dibersihkan’ (partialed out) dari perhitungan nilai b atau dengan kata lain dikendalikan atau dikontrol. Oleh karena itu nilai b dalam analisis regresi ganda diinterpretasi sebagai “kenaikan nilai prediksi Y untuk setiap poin kenaikan nilai X dengan mengendalikan nilai variabel independen lain”. Atau “kenaikan nilai prediksi Y untuk setiap poin kenaikan nilai X jika nilai variabel independen lain tetap”. Dari sinilah kemudian ide mengenai korelasi parsial dan semi parsial muncul, yaitu korelasi antara dua variabel dengan mengendalikan (partial out) variabel lain.

    Ketika korelasi antar variabel independen sama dengan nol (r12=0), maka akan terjadi :
    Jika kita lihat rumus b1 ini sama dengan rumus b1 pada analisis regresi dengan menggunakan satu prediktor saja, ini diakibatkan tidak ada korelasi yang ‘dibersihkan’ dari perhitungan nilai b, karena tidak ada korelasi antar variabel independen.

    R kuadrat.
    Perhitungan R kuadrat dalam regresi ganda dapat dilakukan dengan banyak cara. Cara pertama dilakukan dengan menjumlahkan R kuadrat untuk tiap korelasi antara variabel independen dengan variabel dependen, lalu dikoreksi.
    Rumus di atas juga menunjukkan bahwa R kuadrat dari garis regresi ganda merupakan jumlah r kuadrat tiap variabel yang dikoreksi atau ‘dibersihkan’ dari korelasi antar variabel independen. Jika r12 = 0 maka Selain cara pertama itu, cara lain yang terhitung mudah adalah dengan mencari koefisien korelasi antara prediksi y dengan y dari data penelitian. Koefisien korelasi yang didapatkan kemudian dikuadratkan. Cara kedua ini dapat dinyatakan dalam bentuk seperti berikut: Regresi Ganda dalam SPSS
    Saya tidak akan memberikan contoh pengerjaan rumus-rumus di atas secara manual…
    “Yaaah…..”, begitu mungkin terdengar dari kejauhan sana.
    Ya … ya … saya bisa memahami kekecewaan anda semua. Tapi saya melakukannya demi kebaikan kita semua (hmm… mulai tercium bau keangkuhan dan hawa kesombongan…). Selain karena membutuhkan kesabaran dan ketelitian ekstra, saya juga menghindari tampilan yang mengerikan dari perhitungan statistik dengan harapan mengurangi pengalaman traumatik berurusan dengan statistik …(hehe… lebai banget…). Saya juga merasa jauh lebih penting memfokuskan pada pemahaman konsep daripada penguasaan hitung-hitungannya, jadi dalam kesempatan ini mari kita segera beralih pada contoh regresi ganda dalam SPSS…. (Mari…. ).
    Contoh: Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui korelasi dari nilai IPK mahasiswa dengan dua variabel lain yaitu nilai Tes Seleksi Masuk I dan Tes Seleksi Masuk II. Penelitian ini juga ditujukan untuk menemukan garis regresi untuk melakukan prediksi nilai IPK seorang mahasiswa berdasarkan informasi dari nilai Tes Seleksi Masuk I dan II.
    Baiklah, langkah pertama adalah dengan membuka data dalam SPSS tentu saja. Yang diikuti dengan klik menu Analyze-Regression-Linear sehingga muncul dialog box seperti ini (gambar 9.)
    Gambar 9.
    Variabel Indeks Prestasi Kumulatif dimasukkan ke dalam kotak Dependent sementara Tes Seleksi I dan Tes Seleksi II dimasukkan ke dalam kotak Independent(s). Kemudian klik OK, sehingga ditampilkan hasil seperti berikut (gambar 10, 11,12):
    Gambar 10.
    Pada Gambar 10. ditampilkan tabel yang memberikan informasi mengenai besarnya R dan R kuadrat. R merupakan korelasi majemuk (multiple correlation) dari kedua variabel independen dengan variabel dependen. R kuadrat (R square) memberikan gambaran seberapa baik garis regresi dapat memberikan prediksi variabel dependen. Dalam hal ini 14% dari variasi variabel dependen yang dapat diprediksikan oleh garis regresi dengan menggunakan kedua tes seleksi sebagai prediktornya.
    Gambar 11.
    Tabel dalam gambar 11, memberikan informasi mengenai signifikasi nilai R atau dapat juga dianggap sebagai uji hipotesis terkait dengan parameter-parameter regresi. Dalam tabel ditemukan nilai p (sig.) lebih kecil dari 0.05. Ini berarti nilai R secara signifikan berbeda dari 0 di populasi. Atau dapat juga diinterpretasi bahwa menggunakan garis regresi memberikan informasi lebih baik dibandingkan hanya dengan menggunakan mean dari variabel dependen. Interpretasi lain terkait dengan parameter, yaitu paling tidak ada satu nilai b yang signifikan. Jika kita membagi JK (Sum of Squares) dari Regression dengan JK dari Total, akan ditemukan nilai yang sama dengan R kuadrat.
    Gambar 12.
    Tabel berikutnya dalam gambar 12. memberikan informasi mengenai besarnya slope dan intercept serta signifikasi dari tiap koefisien tersebut. Slope untuk Tes Seleksi I adalah 0.049 sementara Tes Seleksi II adalah 0.090. Intercept dari persamaan garis regresi ini adalah 1.932. Semua parameter tersebut signifikan dengan taraf 5%. Ini berarti garis regresi untuk memprediksi IP Kumulatif mahasiswa adalah sebagai berikut:

    Arti dari slope untuk Tes Seleksi masuk : dengan mengendalikan nilai Tes Seleksi II, tiap kenaikan satu poin dalam Tes Seleksi I akan diikuti oleh prediksi IPK sebanyak 0.049 poin. Atau : kenaikan 1 poin nilai Tes seleksi I akan diikuti oleh kenaikan prediksi IPK, jika nilai Tes Seleksi II tetap.
    Baiklah demikian kiranya pembahasan mengenai analisis regresi ganda. Tentu saja banyak bunga-bunga di sekitar analisis regresi ganda ini yang belum bisa dibahas dalam postingan ini.

  • 28 Mar 2012 /  Tugas

    Regresi linier adalah metode statistika yang digunakan untuk membentuk model hubungan antara variabel terikat (dependen; respon; Y) dengan satu atau lebih variabel bebas (independen, prediktor, X). Apabila banyaknya variabel bebas hanya ada satu, disebut sebagai regresi linier sederhana, sedangkan apabila terdapat lebih dari 1 variabel bebas, disebut sebagai regresi linier berganda.

    Analisis regresi setidak-tidaknya memiliki 3 kegunaan, yaitu untuk tujuan deskripsi dari fenomena data atau kasus yang sedang diteliti, untuk tujuan kontrol, serta untuk tujuan prediksi. Regresi mampu mendeskripsikan fenomena data melalui terbentuknya suatu model hubungan yang bersifatnya numerik. Regresi juga dapat digunakan untuk melakukan pengendalian (kontrol) terhadap suatu kasus atau hal-hal yang sedang diamati melalui penggunaan model regresi yang diperoleh. Selain itu, model regresi juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan prediksi untuk
    variabel terikat. Namun yang perlu diingat, prediksi di dalam konsep regresi hanya boleh dilakukan di dalam rentang data dari variabel-variabel bebas yang digunakan untuk membentuk model regresi tersebut. Misal, suatu model regresi diperoleh dengan mempergunakan data variabel bebas yang memiliki rentang antara 5 s.d. 25, maka prediksi hanya boleh dilakukan bila suatu nilai yang digunakan sebagai input untuk variabel X berada di dalam rentang tersebut. Konsep ini disebut
    sebagai interpolasi. Data untuk variabel independen X pada regresi linier bisa merupakan data pengamatan yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh peneliti (obsevational data) maupun data yang telah ditetapkan (dikontrol) oleh peneliti sebelumnya (experimental or fixed data). Perbedaannya adalah bahwa dengan menggunakan fixed data, informasi yang diperoleh lebih kuat dalam menjelaskan
    hubungan sebab akibat antara variabel X dan variabel Y. Sedangkan, pada observational data, informasi yang diperoleh belum tentu merupakan hubungan sebab-akibat. Untuk fixed data, peneliti sebelumnya telah memiliki beberapa nilai variabel X yang ingin diteliti. Sedangkan, pada observational data, variabel X yang diamati bisa berapa saja, tergantung keadaan di lapangan. Biasanya, fixed data diperoleh dari percobaan laboratorium, dan observational data diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Di dalam suatu model regresi kita akan menemukan koefisien-koefisien. Koefisien pada model regresi sebenarnya adalah nilai duga parameter di dalam model regresi untuk kondisi yang sebenarnya (true condition), sama halnya dengan statistik mean (rata-rata) pada konsep statistika dasar. Hanya saja, koefisien-koefisien untuk model regresi merupakan suatu nilai rata-rata yang
    berpeluang terjadi pada variabel Y (variabel terikat) bila suatu nilai X (variabel bebas) diberikan.
    Koefisien regresi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
    1. Intersep (intercept)
    Intersep, definisi secara metematis adalah suatu titik perpotongan antara suatu garis dengan sumbu Y pada diagram/sumbu kartesius saat nilai X = 0. Sedangkan definisi secara statistika adalah nilai rata-rata pada variabel Y apabila nilai pada variabel X bernilai 0. Dengan kata lain, apabila X tidak memberikan kontribusi, maka secara rata-rata, variabel Y akan bernilai sebesar intersep. Perlu diingat, intersep hanyalah suatu konstanta yang memungkinkan munculnya koefisien lain di dalam model regresi. Intersep tidak selalu dapat atau perlu untuk diinterpretasikan. Apabila data pengamatan pada variabel X tidak mencakup nilai 0 atau mendekati 0, maka intersep tidak memiliki makna yang berarti, sehingga tidak perlu
    diinterpretasikan.
    2. Slope
    Secara matematis, slope merupakan ukuran kemiringan dari suatu garis. Slope adalah koefisien regresi untuk variabel X (variabel bebas). Dalam konsep statistika, slope merupakan suatu nilai yang menunjukkan seberapa besar kontribusi (sumbangan) yang diberikan suatu variabel X terhadap variabel Y. Nilai slope dapat pula diartikan sebagai ratarata pertambahan (atau pengurangan) yang terjadi pada variabel Y untuk setiap peningkatan satu satuan variabel X.
    Contoh model regresi:
    Y = 9.4 + 0.7*X + 
    Angka 9.4 merupakan intersep, 0.7 merupakan slope, sedangkan  merupakan error. Error bukanlah berarti sesuatu yang rusak, hancur atau kacau. Pengertian error di dalam konsep statistika berbeda dengan pengertian error yang selama ini dipakai di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam konsep regresi linier, error adalah semua hal yang mungkin mempengaruhi variabel terikat Y, yang tidak diamati oleh peneliti.
    Berikut ini adalah contoh garis regresi di dalam sebuah grafik:

    Dalam grafik diatas dapat kita lihat bahwa sumbu X berada pada kisaran angka 5 lebih sedikit hingga angka 15 lebih sedikit. Hal ini berarti bahwa kita hanya diijinkan untuk melakukan prediksi nilai Y untuk nilai X yang berada dalam rentang tersebut. Sebab, kita tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa hubungan variabel X dan Y tetap linier untuk titik-titik data yang mendekati angka nol. Kondisi seperti ini berdampak terhadap interpretasi intersep. Dalam kasus ini, karena data untuk variabel X tidak memuat angka nol atau mendekati nol, intersep dikatakan tidak memiliki makna yang berarti, sehingga tidak perlu diinterpretasikan.

    Uji Simultan Model Regresi
    Uji simultan (keseluruhan; bersama-sama) pada konsep regresi linier adalah pengujian mengenai apakah model regresi yang didapatkan benar-benar dapat diterima. Uji simultan bertujuan untuk menguji apakah antara variabel-variabel bebas X dan terikat Y, atau setidaktidaknya antara salah satu variabel X dengan variabel terikat Y, benar-benar terdapat hubungan linier (linear relation). Hipotesis yang berlaku untuk pengujian ini adalah:
    H0 : 1=2 …=k=0
    H1 : Tidak semua i=0
    i = 1, 2, …, k
    k = banyaknya variabel bebas X
    i = parameter (koefisien) ke-i model regresi linier
    Penjabaran secara hitungan untuk uji simultan ini dapat ditemui pada tabel ANOVA (Analysis Of
    Variance). Di dalam tabel ANOVA akan ditemui nilai statistik-F ( Fhitung ), dimana:
    jika Fhitung ≤ Ftabel ( db1 , db2 ) maka terima H0 , sedangkan
    jika Fhitung > Ftabel ( db1 , db2 ) maka tolak H0 .
    db1 dan db2 adalah parameter-parameter Ftabel , dimana:
    db1 = derajat bebas 1
    = p -1
    db2 = derajat bebas 2
    = n – p
    p = banyaknya parameter (koefisien) model regresi linier
    = banyaknya variabel bebas + 1
    n = banyaknya pengamatan
    Apabila H0 ditolak, maka model regresi yang diperoleh dapat digunakan.
    Uji Parsial
    Uji parsial digunakan untuk menguji apakah sebuah variabel bebas X benar-benar
    memberikan kontribusi terhadap variabel terikat Y. Dalam pengujian ini ingin diketahui apakah jika secara terpisah, suatu variabel X masih memberikan kontribusi secara signifikan terhadap variabel terikat Y.
    Hipotesis untuk uji ini adalah:
    H0 : j = 0
    H1 : j ≠ 0
    dimana:
    j = 0, 1, …, k
    k = banyaknya variabel bebas X
    Uji parsial ini menggunakan uji-t, yaitu:
    jika thitung ≤ ttabel (n-p), maka terima H0
    jika thitung > ttabel (n-p), maka tolak H0
    dimana
    (n-p) = parameter ttabel
    n = banyanya pengamatan
    p = banyaknya parameter (koefisien) model regresi linier
    Apabila H0 ditolak, maka variabel bebas X tersebut memiliki kontribusi yang signifikan terhadap variabel terikat Y.

    Pengambilan Keputusan dengan p-value
    Dalam memutuskan apakah menerima atau menolak H0 dalam konsep statistika, kita
    dihadapkan pada suatu kesalahan dalam menyimpulkan suatu kasus yang kita amati. Hal ini disebabkan karena di dalam statistika, kita bermain-main dengan sampel. Statistika menggunakan informasi dari sampel untuk menyimpulkan kondisi populasi keseluruhan. Oleh karena itu, mungkin sekali terjadi kesalahan dalam membuat suatu kesimpulan bagi populasi tersebut. Namun demikian, konsep statistika berupaya agar kesalahan tersebut sebisa mungkin adalah yang terkecil.
    Untuk memutuskan apakah H0 ditolak atau diterima, kita membutuhkan suatu kriteria
    uji. Kriteria uji yang paling sering digunakan akhir-akhir ini adalah p-value. P-value lebih disukai dibandingkan kriteria uji lain seperti tabel distribusi dan selang kepercayaan. Hal ini disebabkan karena p-value memberikan 2 informasi sekaligus, yaitu disamping petunjuk apakah H0 pantas ditolak, p-value juga memberikan informasi mengenai peluang terjadinya kejadian yang disebutkan di dalam H0 (dengan asumsi H0 dianggap benar). Definisi p-value adalah tingkat keberartian terkecil sehingga nilai suatu uji statistik yang sedang diamati masih berarti.
    Misal, jika p-value sebesar 0.021, hal ini berarti bahwa jika H0 dianggap benar, maka kejadian yang disebutkan di dalam H0 hanya akan terjadi sebanyak 21 kali dari 1000 kali percobaan yang sama. Oleh karena sedemikian kecilnya peluang terjadinya kejadian yang disebutkan di dalam H0 tersebut, maka kita dapat menolak statement (pernyataan) yang ada di dalam H0 . Sebagai gantinya, kita menerima statement yang ada di H1 . P-value dapat pula diartikan sebagai besarnya peluang melakukan kesalahan apabila kita memutuskan untuk menolak H0 . Pada umumnya, p-value dibandingkan dengan suatu taraf nyata  tertentu, biasanya 0.05 atau 5%. Taraf nyata  diartikan sebagai peluang kita melakukan kesalahan untuk menyimpulkan bahwa H0 salah, padahal sebenarnya statement H0 yang benar. Kesalahan semacam ini biasa dikenal dengan galat/kesalahan jenis I (type I error, baca = type one error). Misal  yang digunakan adalah 0.05, jika p-value sebesar 0.021 (< 0.05), maka
    kita berani memutuskan menolak H0 . Hal ini disebabkan karena jika kita memutuskan menolak H0 (menganggap statement H0 salah), kemungkinan kita melakukan kesalahan masih lebih kecil daripada  = 0.05, dimana 0.05 merupakan ambang batas maksimal dimungkinkannya kita salah dalam membuat keputusan.

    Koefisien Determinasi R2
    Koefisien determinasi adalah besarnya keragaman (informasi) di dalam variabel Y yang dapat diberikan oleh model regresi yang didapatkan. Nilai R2 berkisar antara 0 s.d. 1. Apabila nilai R2 dikalikan 100%, maka hal ini menunjukkan persentase keragaman (informasi) di dalam variabel Y yang dapat diberikan oleh model regresi yang didapatkan. Semakin besar nilai R2 , semakin baik model regresi yang diperoleh.

    Daniel, W.W. STATISTIK NONPARAMETRIK TERAPAN. Gramedia. Jakarta.
    Gujarati, D. 1991. EKONOMETRIKA DASAR. Erlangga. Jakarta.

  • 13 Nov 2011 /  Tugas

    Interaksionisme Simbolis

    Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain.

    Dalam perspektif ini dikenal nama sosiolog George Herbert Mead (1863–1931), Charles Horton Cooley (1846–1929), yang memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Sosiolog interaksionisme simbolik kontemporer lainnya adalah Herbert Blumer (1962) dan Erving Goffman (1959).
    Seperti yang dikatakan Francis Abraham dalam Modern Sociological Theory (1982), bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang bersifat sosial- psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis. Teori ini akan berurusan dengan struktur- struktur sosial, bentuk-bentuk kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan, interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial. Interaksi sendiri dianggap sebagai unit analisis: sementara sikap-sikap diletakkan menjadi latar belakang.

    Baik manusia dan struktur sosial dikonseptualisasikan secara lebih kompleks, lebih tak terduga, dan aktif jika dibandingkan dengan perspektif-perspektif sosiologis yang konvensional.Di sisi ini masyarakat tersusun dari individu-individu yang berinteraksi yang tidak hanya bereaksi, namun juga menangkap, menginterpretasi, bertindak, dan mencipta. Individu bukanlah sekelompok sifat, namun merupakan seorang aktor yang dinamis dan berubah, yang selalu berada dalam proses menjadi dan tak pernah selesai terbentuk sepenuhnya.
    Masyarakat bukanlah sesuatu yang statis “di luar sana” yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita, namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. Individu bukan hanya memiliki pikiran (mind), namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis, namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial. Selain itu, keseluruhan proses interaksi tersebut bersifat simbolik, di mana makna-makna dibentuk oleh akal budi manusia.

    Makna-makna itu kita bagi bersama yang lain, definisi kita mengenai dunia sosial dan persepsi kita mengenai, dan respon kita terhadap, realitas muncul dalam proses interaksi. Herbert Blumer, sebagaimana dikutip oleh Abraham (1982) salah satu arsitek utama dari interaksionisme simbolik menyatakan: Istilah ‘interaksi simbolik’ tentu saja menunjuk pada sifat khusus dan khas dari interaksi yang berlangsung antar manusia. Kekhususan itu terutama dalam fakta bahwa manusia menginterpretasikan atau ‘mendefinsikan’tindakan satu sama lain dan tidak semata-mata bereaksi atas tindakan satu sama lain.

    Jadi, interaksi manusia dimediasi oleh penggunaan simbol-simbol, oleh interpretasi, atau oleh penetapan makna dari tindakan orang lain. Mediasi ini ekuivalen dengan pelibatan proses interpretasi antara stimulus dan respon dalam kasus perilaku manusia.Pendekatan interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatan-pendekatan teoritis lainnya. Pendekatan interaksionisme simbolik berkembang dari sebuah perhatian ke arah dengan bahasa; namun Mead mengembangkan hal itu dalam arah yang berbeda dan cukup unik. Pendekatan interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut adalah virtual.

    Semua interaksi antarindividu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol. Ketika kita berinteraksi dengan yang lainnya, kita secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Interaksionisme simbolik mengarahkan perhatian kita pada interaksi antarindividu, dan bagaimana hal ini bisa dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu.
    Gagasan Teori Interaksionisme SimbolikIstilah paham interaksi menjadi sebuah label untuk sebuah pendekatan yang relatif khusus pada ilmu dari kehidupan kelompok manusia dan tingkah laku manusia. Banyak ilmuwan yang telah menggunakan pendekatan tersebut dan memberikan kontribusi intelektualnya, di antaranya George Herbert Mead, John Dewey, W.I Thomas, Robert E.Park, William James, Charles Horton Cooley, Florian Znaniceki, James Mark Baldwin, Robert Redfield dan Louis Wirth. Teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the self) dan dunia luarnya. Di sini Cooley menyebutnya sebagai looking glass self.

    Dengan mengetahui interaksionisme simbolik sebagai teori maka kita akan bisa memahami fenomena sosial lebih luas melalui pencermatan individu. Ada tiga premis utama dalam teori interaksionisme simbolis ini, yakni manusia bertindak berdasarkan makna-makna; makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain; makna tersebut berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut berlangsung.Menurut KJ Veeger yang mengutip pendapat Herbert Blumer, teori interaksionisme simbolik memiliki beberapa gagasan. Di antaranya adalah mengenai Konsep Diri.

    Di sini dikatakan bahwa manusia bukanlah satu-satunya yang bergerak di bawah pengaruh perangsang entah dari luar atau dalam melainkan dari organisme yang sadar akan dirinya (an organism having self). Kemudian gagasan Konsep Perbuatan dimana perbuatan manusia dibentuk dalam dan melalui proses interaksi dengan dirinya sendiri. Dan perbuatan ini sama sekali berlainan dengan perbuatan-perbuatan lain yang bukan makhluk manusia. Kemudian Konsep Obyek di mana manusia diniscayakan hidup di tengah-tengah obyek yang ada,yakni manusia-manusia lainnya.

    Selanjutnya Konsep Interaksi Sosial di mana di sini proses pengambilan peran sangatlah penting. Yang terakhir adalah Konsep Joint Action di mana di sini aksi kolektif yang lahir atas perbuatan-perbuatan masing-masing individu yang disesuaikan satu sama lain.Menurut Soeprapto (2001), hanya sedikit ahli yang menilai bahwa ada yang salah dalam dasar pemikiran yang pertama. “Arti” (mean) dianggap sudah semestinya begitu, sehingga tersisih dan dianggap tidak penting. “Arti” dianggap sebagai sebuah interaksi netral antara faktor-faktor yang bertanggungjawab pada tingkah laku manusia, sedangkan ‘tingkah laku’ adalah hasil dari beberapa faktor. Kita bisa melihatnya dalam ilmu psikologi sosial saat ini. Posisi teori interaksionisme simbolis adalah sebaliknya, bahwa arti yang dimiliki benda-benda untuk manusia adalah berpusat dalam kebenaran manusia itu sendiri.

    Dari sini kita bisa membedakan teori interaksionisme simbolis dengan teori-teori lainnya, yakni secara jelas melihat arti dasar pemikiran kedua yang mengacu pada sumber dari arti tersebut.Teori interaksionisme simbolis memandang bahwa “arti” muncul dari proses interaksi sosial yang telah dilakukan. Arti dari sebuah benda untuk seseorang tumbuh dari cara-cara di mana orang lain bersikap terhadap orang tersebut. Sehingga interaksi simbolis memandang “arti”sebagai produk sosial; Sebagai kreasi-kreasi yang terbentuk melalui aktifitas yang terdefinisi dari individu saat mereka berinteraksi.
    Pandangan ini meletakkan teori interaksionisme simbolis pada posisi yang sangat jelas, dengan implikasi yang cukup dalam. Tokoh-tokoh Teori Interaksionisme Simbolik. Mengikuti penjelasan Abraham (1982), Charles Horton Cooley adalah tokoh yang amat penting dalam teori ini. Pemikiran sosial Cooley terdiri atas dua asumsi yang mendalam dan abadi mengenai hakikat dari kehidupan sosial, yaitu bahwa kehidupan sosial secara fundamental merupakan sebuah evolusi organik, dan bahwa masyarakat itu secara ideal bersifat demokratis, moral, dan progresif. Konsep evolusi organik-nya Cooley berbeda secara hakiki dari konsepnya Spencer dan para ilmuwan sosial abad kesembilanbelas.

    Sementara para pemikir yang lebih awal memusatkan diri pada aspek-aspek kolektif yang berskala-besar dari pembangunan, dari perjuangankelas, dari lembaga sosial dan sebagainya, di sini Cooley berusaha mendapatkan sebuah pemehaman yang lebih mendalam mengenai individu namun bukan sebagai entitas yang terpisah dari masyarakat, namun sebagai sebuah bagian psiko-sosial dan historis dari bahan-bahan penyusun masyarakat.“Kehidupan kita adalah satu satu kehidupan manusia secara keseluruhan,” kata Cooley, “dan jika kita ingin memiliki pengetahuan yang riil atas diri individu, maka kita harus memandang individu secara demikian. Jika kita melihatnya secara terpisah, maka proses pengetahuan kita atas diri individu akan gagal.”
    Jadi, evolusi organik adalah interplay yang kreatif baik individu maupun masyarakat sebagai dua wujud dari satu fenomena yang sama, yang saling menegaskan dan beriringan meski tetap masih bisa dibedakan. ”Masyarakat adalah sebuah proses saling berjalinnya dan saling bekerjanya diri-diri yang bersifat mental (mental selves). Saya membayangkan apa yang Anda pikirkan, terutama mengenai apa yang Anda pikirkan tentang apa yang saya pikirkan, terutama mengenai apa yang saya pikirkan tentang apa yang Anda pikirkan.”

    Jadi, menurut Cooley, tugas fundamental dari sosiologi ialah untuk memahami sifat organis dari masyarakat sebagaimana dia berlangsung melalui persepsi-persepsi individual dari orang lain dan dari diri mereka sendiri. Jika sosiologi hendak memahami masyarakat, dia harus mengkonsentrasikan perhatiannya pada aktivitas-aktivitas mental dari individu-individu yang menyusun masyarakat tersebut. “Imajinasi yang saling dimiliki oleh orang-orang merupakan fakta-fakta yang solid dari masyarakat… Masyarakat adalah sebuah relasi di antara ide-ide yang bersifat personal.”Dalam konsep The Looking-Glass Self (Diri Yang Seperti Cermin Pantul), menurut Cooley, institusi-institusi sosial yang utama ialah bahasa, keluarga, industri, pendidikan,agama, dan hukum. Sementara institusi-institusi tersebut membentuk ‘fakta-fakta dari masyarakat’ yang bisa dipelajari oleh studi sosiologis, mereka juga merupakan produk-produk yang ditentukan dan dibangun oleh pikiran publik. Menurut Cooley, institusi-institusi tersebut merupakan hasil dari organisasi dan kristalisasi dari pikiran yang membentuk bentuk-bentuk adat-adat kebiasaan, simbol-simbol, kepercayaan-kepercayaan, dan sentimen-sentimen perasaan yang tahan lama.

    Oleh karena itu, institusi-institusi tersebut merupakan kreasi-kreasi mental dari individu-individu dan dipelihara melalui kebiasaan-kebiasaan manusiawi dari pikiran yang hampir selalu dilakukan secara tidak sadar karena sifat kedekatannya dengan diri kita (familiarity). Seperti yang ditegaskan oleh Cooley, ketika institusi-institusi masyarakat dipahami terutama sebagai kreasi-kreasi mental, maka individu bukanlah semata-mata ‘efek’ dari struktur sosial, namun juga merupakan seorang kreator dan pemelihara struktur sosial tersebut.

    Intinya, Cooley mengkonsentrasikan kemampuan-kemampuan analitiknya terhadap perkembangan dari diktum fundamentalnya, yaitu “Imajinasi-imajinasi yang saling dimiliki oleh orang-orang merupakan fakta-fakta yang solid dari masyarakat.” Dalam bukunya yang pertama, Human Nature and the Social Order, dia terfokus pada teori mengenai diri-yang-bersifat-sosial (social-self), yakni makna “Aku”sebagaimana yang teramati dalam pikiran dan perbincangan sehari-hari.

    DAFTAR PUSTAKA
    Riyadi Soeprapto.2001. Interaksionisme Simbolik Perspektif Sosiologi Modern. Yogyakarta: Averroes Press dan Pustaka Pelajar.

    Horton, Paul B dan Chester L. Hunt. 1984. Sociology. Jakarta: Penerbit Erlangga.

    KJ Veeger. 1985. Realitas Sosial, Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu –
    Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta: Gramedia. Hlm 224 – 226.

    Ryadi Soeprapto,. 2000. Interaksionisme Simbolik,Perspektiof Sosiologi Modern. Malang: Averroes Press dan Pustaka Pelajar.

  • 10 Nov 2011 /  Tugas

    Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang sekumpulan data mengenai sesuatu hal, baik mengenai sampel ataupun populasi, selain daripada data itu disajikan dalam tabel dan diagram, masih diperlukan ukuran-ukuran yang merupakan wakil kumpulan data tersebut. Ukuran tersebut adalah ukuran tendensi sentral dan ukuran letak. Ukuran tendensi sentral meliputi rata-rata atau rata-rata hitung, rata-rata ukur, dan modus. Sedangkan ukuran letak meliputi median, kuartil, desil dan persentil.
    Ukuran yang dihitung dari kumpulan data dalam sampel dinamakan statistik. Apabila ukuran itu dihitung dari kumpulan data dalam populasi atau dipakai untuk menyatakan populasi, maka namanya parameter. Jadi ukuran yang sama dapat bernama statistik atau parameter tergantung pada apakah ukuran dimaksud untuk sampel atau populasi.
    (Sumber: http://letstudy.site40.net/index.php/kumpulan-artikel/2-ariteklartikel/2-ukuran-tendensi-sentral)
    Tujuan dalam pengukuruan central tendency adalah untuk menerangkan secara akurat tentang skor atau penilaian suatu obyek yang sedang diteliti, baik secara ndividual maupun kelompok, melalui pengukuran tunggal. Central tendency adalah ukuran statistik yang menyatakan bahwa satu skor yang dapat mewakili keseluruhan distribusi skor atau penilaian yang sedang diteliti. Dengan demikian maka central tendency merupakan penyederhanaan data untuk mempermudah peneliti membuat interpretasi dan mengambil suatu kesimpulan. Ada 3 cara untuk mengukur central tendency, yaitu : mode,median, dan rata-rata.
    Modus adalah skor yang mempunyai frekuensi terbanyak dalam sekumpulan distribusi skor. Dengan kata lain modus dianggap sebagai nilai yang menunjukkan nilai-nilai yang lain terkonsentrasi. Modus dapat dicari dalam distribusi frekuensi satuan maupun kategorikal.
    median adalah skor yang membagi distribusi frekuensi menjadi dua sama besar
    mean adalah hasil bagi dari sejumlah skor dengan banyaknya responden.
    (Sumber: http://sanglazuardi.com/statistik-dasar/tendensi-sentraltujuan-tendensi-sentral)

  • 10 Nov 2011 /  Tugas

    Korelasi spearman rank bisa juga disebut korelasi berjenjang, korelasi berpangkat, dan ditulis dengan notasi (rs). Kegunaannya untuk mengukur tingkat atau eratnya hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat yang berskala ordinal, mengetahui tingkat kecocokan dari dua variabel terhadap grup yang sama, mendapatkan validitas empiris alat pengumpul data, dan mengetahui reliabilitas alat pengumpul data yang dimodifikasi dengan William Brown sehingga menghasilkan rumus baru yaitu Spearman-Brown bersimbol (r11) = 2r : 1 + 2r. juga untuk mengukur data kuantitatif secara eksakta yang sulit dilakukan. Data terdiri dari ‘n’ pasangan sampel acak hasil pengamatan dapat berupa data numerik atau non numerik. Setiap pasangan pengamatan menyatakan dua hasil pengukuran yang dilakukan terhadap objek atau individu yang sama. Metode korelasi Spearman Rank tidak terikat dengan asumsi bahwa populasi yang diselidiki harus berdistribusi normal, populasi sampel yang diambil sebagai sampel maksimal 5 Rumus Korelasi Spearman Rank :

    Keterangan :
    rs = Nilai Korelasi Spearman Rank
    d2 = Selisih setiap pasangan rank
    n = Jumlah pasangan rank untuk Spearman (5 < n < 30)

    Setelah melalui pengujian hipotesis dan hasilnya signifikan, (Ho ditolak), maka untuk menentukan keeratan hubungan bisa digunakan Kriteria Guilford (1956), yaitu : kurang dari 0,20 : Hubungan yang sangat kecil dan bisa diabaikan 0,20 – < 0,40 : Hubungan yang kecil (tidak erat) 0,40 – < 0,70 : Hubungan yang cukup erat 0,70 – < 0,90 : Hubungan yang erat (reliabel) 0,90 – rs-krit

    (sumber: pkukmweb.ukm.my/~tangang/stab2003/Bab8/chapter8.htm)

  • 08 Sep 2011 /  Tugas

    ada yang tersisa pada perayaan Idul Fitri kali ini yaitu masalah“ribut-ribut”THR dari kementrian Agama yang terlambat cair .  Masih ada yang marah-marah kok bisa ya terlambat? Ada yang bilang  Kementrian Agama tidak profesional, Ada yang menuntut  ganti mentrinya, tapi ada juga yang mendukung keterlamatan THR dari kementrian agama tersebut. Ya,  THR (Ternyata Hari Rabu)  sebagai hadiah dari Pemerintah kali ini melalui kementrian agama memang membuat ribut-ribut yang tak berkesudahan. Malah ada oknum yang memanfaatkan moment THR ini untuk dipolitisir menghujat ormas tertentu yang dibilang tidak kompak, gengsian, ada juga yang salah kaprah bilang Yahudi dibalik ini semua. Ada oknum yang bilang pemerintah indonesia“bodoh”, llau menghujat, mencaci, bikin tulisan-tulisan menyesatkan di media massa baik di dunia nyata maupun maya. Ah, itulah indonesia! Tapi salut dengan Kementrian Agama mereka tidak terpropaganda, Kementrian Bungkam dengan masalah ini. Sebuah tindakan yang sangat“bijak”, supaya masalah tidak berlarut-larut.

    Sumber: kompas, 1 September 2011

  • 14 Jun 2011 /  Tugas

    SISTEM PEMERINTAHAN TRADISONAL MASYARAKAT ASMAT DI IRIAN JAYA

    Buku ini merupakan hasil penelitian instansional yang dilaksanakan oleh para staff direktorat sejarah dan nilai tradisional,direktorat jendral kebudayaan ini antara lain bertujuan mengisi ruang kosong mengenai informasi pemerintahan tradisional dalam masyarakat Asmat. Fokus perhatian utama diarahkan kepada informasi mengenai bagaimana bentuk pemerintahan tradisional tersebut berkembang dalam lingkungan aslinya, serta bagaimana peranan dan pengaruh dari sisa-sisa pemerintahan tradisional tersebut setelah diberlakukannya Undang undang Nomor 10 tahun 1975 tentang pemerintahan daerah di seluruh Indonesia. Walaupun peraturan pemerintah tersebut telah berlaku hampir 20 tahun,akan tetapi pengaruh dan hambatan dari sistem pemerintahan tradisional terhadap pembangunan di daerah daerah masih terasa seperti dilaporkan oleh banyak pelaksana pembangunan. Direktorat sejarah dan Nilai tradisional dalam kapasitas tugas dan fungsinya berusaha berusaha mengangkat kasus sistem kepemimpinan tradisional Asmat sebagai salah satu daerah yang relatif masih baru mengenal dan menerapkan sistem pemerintahan nasional dalam kehidupan kepemimpinan sosial-politik mereka.

    Tujuan penelitian ini antara lain adalah mendapatkan data dan informasi tentang bagaimana proses perkembangan kehidupan sosial politik pada masyarakat Asmat khususnya dan Irian Jaya umumnya. Memberi masukan mengenai daya dukung politik dan pemerintahan sejalan dengan meningkatnya kegiatan pembangunan nasional di segala bidang. Secara khusus,penelitian ini bertujuan mencari data tentang tipe tipe kekuatan dan kekuasaan yang dapat menunjang kelancaran pembangunan,khususnya pembangunan politik. Memberi masukan berupa pedoman pedoman untuk pembinaan dan pengembangan kebudayaan suatu masyarakat,khususnya dalam rangka menghadapi berbagai akibat dari meningkatnya intensitas kegiatan pemerintahan dan politik yang melanda seluruh daerah di Indonesia. Selanjutnya hasil penelitian ini akan dijadikan naskah yang diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan guna penelitian serta kebijaksanaan lebih lanjut.

    Ruang lingkup dalam kegiatan penelitian dan penulisan ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu berdasarkan materi yang dimiliki dan tehnik operasional pengolahannya. Asmat adalah salah satu daerah dengan kehidupan khas suatu masyarakat sederhana di Irian Jaya yang sedang dikembangkan pada dewasa ini. Lingkungan alamnya sangat dipengaruhi suhu dan cakrawala tropis, hampir seluruh daratannya tertutup oleh rawa-rawa serta genangan pasang surut dan naik air laut yang amat jelas perbedaannya. Lingkungan alam berawa rawa Asmat ditandai oleh hamparan hutan tropis maha luas yang menyimpan pokok pokok sagu yang seolah olah tak pernah habis dimakan tujuh turunan. Mata pencaharian pokok mereka adalah meramu sagu yang diandalkan sebagai makanan pokok utama. Kebutuhan air tawar diperoleh dari curahan hujan dan tumpahan sungai dari pegunungan tinggi dipedalaman. Boelh dikatakan air hujan adalah sumber untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sejak ratusan tahun yang silam. Karena banyak pendatang yang menggunakan air yang dikemas dalam botol botol plastik maka orang Asmat mulai mengenal adanya air murni yang banyak di jual di kios kios pendatang di daerahnya. Tulisan ini adalah sebagian dari hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh staff direktorat sejarah dan nilai tradisional di desa Agats, Ayam, Syuru, dan Amboret di wilayah Asmat, kabupaten Merauke, Profinsi Irian Jaya. Di desa itu terdapat beberapa lokasi yang dijadikan sebagai obyek wisata, terutama karena menghasilkan ukiran. Daerah daerah tujuan wisata itu adalah Sawa-Erma, Atsj, Pirimapun dan Brazza. Dengan kata lain penduduk desa Asmat di kabupaten Merauke telah menyesuaikan diri dengan progam progam pemerintah daerah yang mengutamakan kebijaksanaan pembangunannya untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk yang bermukim di wilayah Indonesia.

    Kegiatan pengumpulan data lapangan dalam kerangka penelitian mengenai perkembangan pemerintahan tradisional dalam kehidupan sosial politik masyarakat Asmat, Irian jaya, ini dilakukan denagn memanfaatkan tehnik tehnik wawancara dan pengamatan secara langsung terhadap penduduk serta lingkungannya. Cara cara seperti ini lazim disebut metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan salah satu cara dalam penelitian yang mengandalkan interpretasi dari sejumlah data yang dikumpulkan. Oleh karena itu, dianggap bahwa kemampuan data metode kualitatif tergantung dari para penelitinya. Metode ini mengandalkan kepekaan peneliti dalam menangkap gejala baikyang diperoleh melalui cerita dan pengalaman dari para informan maupun pengamatan terhadap tingkah laku mereka dalam berbagai kegiatan hidup sehari hari dan di saat saat penting dalam lingkaran hidup merka. Di samping itu materi penganalisaan juga memanfaatkan data sekunder yang sudah ada, yaitu informasi informasi yang berupa laporan atau tulisan mengenai hasil hasil penelitian terhadap daaerah tersebut. Tentu saja studi kepustakaan seperti ini sangat diperlukan sebagai pendukung kerangka dasar pemikiran, asumsi asumsi dan pesoman dalam pengumpulan data, serta sebagai alat komprehensif dalam penganalisaan.

    Masyarakat dan kebudayaan asmat adalah salah satu suku bangsa yang paling banyak dilaporkan dan diteliti. Banyak anggapan bahwa indigenous dan primitif dalam pandangan barat. Namun sebenarnya keseluruhan fenomena kehidupaan sosial budaya dan lingkungan alam yang khas itu yang menjadikan asmat begitu menonjol dibandungkan dengan ratusan suku bangsa lain di Irian jaya. Sehingga studi tentang satu aspek saja dari kehidupan sosial budaya Asmat perlu dikaitkan kepada berbagi aspek lain, terutama yang berpengaruh secara langsung.

    Dalam studi ini, bagaimanapun sistem pemrintahan tradisional asmat berada dalam kerangka besar sistem sosial yang sudah tentu terbentuk dalam rangka institusionalisasi cara cara pemenuhan kebutuhan setiap warganya. Sehingga tinjauan terhadap kondisi dan letak geografis atau situasi lingkungan fisik secara keseluruhan memerlukan sekali tinjauan silang dengan fakta fakta sosial yang ada sampai saat ini ciri ciri sosial budaya masyarakat asmat masih dapat digolongkan ke dalam jenis masyarakat tribal,masyarakat bersahaja yang belum sepenuhnya memahami sistem kemasyarakatan terpusat dan mendapat mandat dari lembaga lembaga hukum teringgi dari negara Indonesia. Setelah sekitar setengah abad terbuka dan di kenal oleh dunia luar orang asmat masih saja dikategorikan oleh lembaga lembaga resmi sebagai masyarakat “terasing”, terutama karena kondisi lingkungan alamnya tetap menjadi penghambat utama kelancaran pembangunan. Kesulitan untuk mendirikan sarana dan prasarana fisik sebagai penunjang pembagunan di segala bidang terseebutlah yang memperlambat perkembagan asmat. Padahal pembangunan itu sendiri pada hakekatnya adalah pemacu kontak kontak dan peningjatn nilai nilai dan cara atau strategi penyesuaian diri dengan kemajuan yang menjadi tujuan.

    Selagi berada dalam taraf perkembamgan yang tidang mulus itu kehidupan sosial politik masyarakat asmat masih tetap didominasi ineal. Dasar hubungan sosial yang demikian pula yang menentukan bentuk bentuk struktur sosial dan sistem pengaturan sosial di antara sesama warga komuniti. Secara struktural kehidupan sosial masyarakat asmat masih dibentuk oleh gugus gugus kekerabatan unilineal yang masing masing memiliki kedudukan sama seimbang(egaliter). Karena antara satu gugus dengan gugus lain terkait ke dalam suatu mekanisme internal yang bersifat genealogis. Sebagai akibatnya dalam kehidupan nyata hubungan politik dan kekerabatan tidak bisa dipisahkan. Boleh dikatakan struktur politik yang bersahaja dan kekerabatan tersebut telah menjadi kesatuan internal dalam sistem keteraturan dan pengaturan sosial internal masyarakat Asmat.

    Bentuk kekuasaan terpusat yang diatur secara administratif dan didukung oleh lembaga lembaga hukum formal masih berafa di sisi luar dari kehidupan sehari hari mereka. Sistem pemerintahan nasional yang diwakili oleh kehadiran sub sistem pemerintahan daerah tingakat desa dan kecamatan belum masuk menjadi bagian dari sistem pengaturan sosial politik internalnya. Tetapi adalah sisi lain dalam rangka hubungan sosial politik dengan unit unit sosial di luar struktur sosial asli mereka.

    Kehidupan Sosial asmat diwakili oleh komuniti jew yang tidak memiliki perbedaan kedudukan sosial yang tajam, tidak ada kekuasaan otokrasi yang dimiliki secara super ordinat oleh seseorang atau kelompok, dan tidak ada pula kedudukan anak buah yang bersifat sub ordinat. Jadi anggapan orang awam bahwa asmat memiliki pemimpin suku adalah tidak berdasar sama sekali. Keteraturan sosial asmat terbentuk oleh sebuah piramida gugus gugus sosial kekerabatan dan terirorial dalam kesamaan derajat dan peran. Gugus sosial paling rendah dalam piramida ini adalah keluarga keluarga inti unilineal yang tergabung ke dalam satu rumah tangga(cem). Gugus rumah rumah tangga dari kakek moyang yang sama tergabung lagi ke dalam kesatuan keluarga luas terbatas yang disebut Jew. Sesungguhnya komuniti kampung Asmat terbentuk dari Unit unit keluarga luas unilineal yang terdiam di semua rumah komunal. Itu pula sebabnya orang Asmat menyebut kampungnya Jew dan Rumah komunalnya juga disebut Jew.

    Sementara itu keluarga keluarga luas unilineal yang ada terbagi kepada dua paroh utama. Yang pertama adalah paroh keluarga luas yang dianggap lebih dulu mendirikan Jew ditempat itu(Cawi). Yang kedua adalah paroh keluarga luas yang dianggap datng terakhir dan gugus ini disebut Amis.

    Sistem kepemimpinan Asmat tergolong jenis Big Man,kepemimpinan orang besar. Hanya orang orang yang benar benar unggul saja yang berhak memimpin di bidangnya. Kepala adat dipilih dari laki laki bijaksana dan berpengalaman dalam masalah aturan dan ketentuan adat yang diwariskan nenek moyang. Karena itu, seorang kepala adat mestilah yang terbaik dan diantara senior. Kepala perang mestilah orang orang terkuat, pemberani dan perkasa diantara mereka. Pengukir utama(wow-ipits) mestilah laki laki terpandai dalam mewujudkan motif motif simbol keyakinan religi mereka. Begitu juga halnya dengan pemimpin kaum wanita, mestilah wanita dewasa yang paling kuat,pandai,dan berwibawa siantara sesama wanita komuniti Jew itu sendiri.

    Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan zaman dan lingkungan telah merubah pula sedikit banyaknya posisi kedudukan sosial, sekaligus lembaga lembaga pengaturan sosial asmat. Kenyataan paling mendasar adalah menguatnya primodialisme dan senioritas, terutama karena golongan tua amat kuatir jika keteraturan sosial diserahkan kepada golongan muda yang membawa nilai nilai dan lembaga sosial baru sebagai pengaruh daru luar. Golongan muda yang terlalu bersemangat dengan pembaruan terpaksa berebut porsi kepemimpinan formal yang baru sedikit tersedia buat mereka, yaitu kedudukan kedudukan sosial formal yang hanya bisa dicapai lewat sosualisasi pendidikan resmi, baik sebagai pegawai pemerintahan ataupun karyawan di lingkungan resmi gereja katolik.

  • 08 May 2011 /  Uncategorized

    Beberapa tempat atau ruangan kadang ditempelkan tanda larangan merokok berupa gambar rokok dicoret. Tapi studi menunjukkan bahwa tanda larangan tersebut justru memicu orang untuk ingin merokok.

    Studi psikologis menemukan bahwa tanda larangan merokok akan membuat seseorang lebih sulit untuk melawan rasa ingin merokok. Tanda ini memiliki efek yang ironis pada perokok karena bisa meningkatkan keinginanannya atau membuatnya berpikir untuk merokok.

    “Anda akan mendapatkan efek yang ironis. Sama seperti halnya ketika saya katakan ‘Tidak memikirkan gajah merah muda’ maka seseorang akan memikirkan gajah berwarna merah muda,” ujar peneliti Brian Earp dari Oxford University, seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (7/5/2011).

    Kondisi ini tentu saja membuat seseorang lebih sulit untuk menahan dirinya agar tidak merokok, sehingga tanda seperti ini justru memicu orang untuk merokok dan bukan menghindarinya.

    Earp menuturkan banyak pesan-pesan kesehatan untuk masyarakat dibingkai dalam cara yang negatif, seperti dilarang mengonsumsi obat tertentu, jangan minum sambil mengemudi atau larangan merokok dengan menunjukkan gambar dari barang tersebut.

    Dalam studi psikologi ini digunakan teknik yang menilai kecenderungan naluriah untuk menginginkan atau menghindari rangsangan tertentu dengan menunjukkan sejumlah gambar. Dari studi ini diketahui bahwa keinginan merokok akan lebih tinggi terjadi jika gambar larangan yang ada berhubungan dengan merokok seperti asbak dan rokok.

    “Kami berpikir larangan ini memiliki dampak yang signifikan dalam implikasinya di kehidupan nyata,” ungkap Earp yang mempresentasikan hasil studi ini pada pertemuan tahunan British Psychological Society di Glasgow.

    Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui pesan seperti apa yang sebaiknya diberikan pada larangan merokok atau pesan kesehatan lainnya, sehingga pesan kesehatan yang dimaksud bisa tercapai dan bukan memberikan dampak negatif.